Kategori 4
Performance Management
Istilah seputar penetapan target, penilaian kinerja, teknik coaching dan feedback, hingga bias-bias yang umum terjadi dalam evaluasi karyawan.
Key Performance Indicator (KPI)
Indikator terukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan seseorang atau tim dalam mencapai target kerja.
Implementasi PraktisKPI recruiter ditetapkan berdasarkan Time to Hire dan jumlah posisi yang berhasil diisi setiap bulan.
Objectives and Key Results (OKR)
Metode manajemen kinerja yang menghubungkan tujuan ambisius (Objectives) dengan hasil terukur (Key Results).
Implementasi PraktisTim Produk menetapkan Objective meningkatkan retensi pengguna dengan Key Result menaikkan retention rate bulanan dari 60% ke 75%.
Goal Setting
Proses menetapkan target kerja yang jelas dan terukur bagi karyawan pada awal periode kerja.
Implementasi PraktisManajer dan karyawan menyepakati goal setting kuartalan dalam sesi one-on-one di awal bulan.
SMART Method
Kerangka menyusun tujuan agar Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound.
Implementasi PraktisTarget meningkatkan penjualan diubah menjadi SMART: meningkatkan penjualan sebesar 10% dalam kuartal ini.
Cascading Goals
Proses menurunkan tujuan organisasi menjadi target yang lebih spesifik di level divisi, tim, hingga individu.
Implementasi PraktisTarget perusahaan meningkatkan revenue diturunkan menjadi target penjualan per divisi, lalu per Sales individu melalui cascading goals.
GROW Model
Kerangka coaching yang terdiri dari Goal, Reality, Options, dan Will, digunakan untuk membantu karyawan menyusun rencana pengembangan.
Implementasi PraktisManajer menggunakan GROW Model dalam sesi coaching untuk membantu karyawan menemukan solusi atas hambatan kerjanya sendiri.
SBI Technique
Teknik memberikan feedback berdasarkan Situation, Behavior, dan Impact agar lebih objektif dan spesifik.
Implementasi PraktisAtasan memberi feedback menggunakan SBI: 'Dalam rapat kemarin (Situation), kamu memotong pembicaraan rekan tim (Behavior), sehingga idenya tidak tersampaikan lengkap (Impact).'
360-Degree Feedback
Metode penilaian kinerja yang mengumpulkan masukan dari berbagai pihak, termasuk atasan, rekan kerja, dan bawahan.
Implementasi PraktisPenilaian kinerja Manager tahun ini menggunakan 360-degree feedback dari atasan, sesama manager, dan anggota timnya.
Self-Assessment
Proses evaluasi diri yang dilakukan karyawan terhadap kinerjanya sendiri sebelum sesi review formal.
Implementasi PraktisKaryawan mengisi self-assessment terlebih dahulu sebelum sesi performance review dengan atasan.
Peer Review
Proses penilaian kinerja yang melibatkan masukan dari rekan kerja setingkat.
Implementasi PraktisSelain penilaian atasan, HR meminta dua rekan setim memberikan peer review terhadap kolaborasi karyawan tersebut.
Bell Curve
Metode distribusi penilaian kinerja karyawan mengikuti kurva normal, dengan mayoritas berada di kategori menengah.
Implementasi PraktisPerusahaan menerapkan bell curve sehingga hanya 10% karyawan yang bisa mendapat rating tertinggi setiap tahun.
Calibration
Proses menyamakan standar penilaian kinerja antar manajer agar hasil evaluasi konsisten dan adil di seluruh tim.
Implementasi PraktisHR mengadakan sesi calibration lintas divisi untuk memastikan rating Exceed Expectation memiliki standar yang sama di semua tim.
Halo Effect
Bias penilaian ketika satu kelebihan menonjol pada karyawan memengaruhi penilaian positif secara keseluruhan, meski aspek lain belum tentu sebaik itu.
Implementasi PraktisAtasan memberi rating tinggi ke seluruh aspek kinerja hanya karena karyawan tersebut pandai presentasi, padahal ketepatan kerjanya biasa saja.
Horn Effect
Bias penilaian ketika satu kekurangan menonjol membuat penilai menilai seluruh aspek kinerja secara negatif.
Implementasi PraktisKaryawan dinilai buruk di semua kompetensi hanya karena sekali terlambat menyerahkan laporan penting.
Recency Bias
Kecenderungan menilai kinerja berdasarkan kejadian terbaru saja, mengabaikan performa sepanjang periode penilaian.
Implementasi PraktisAtasan memberi rating rendah karena kesalahan kecil minggu lalu, padahal performa sepanjang tahun sangat baik.
Leniency Bias
Kecenderungan penilai memberikan rating lebih tinggi dari kinerja sebenarnya karena segan atau ingin menghindari konflik.
Implementasi PraktisManajer baru cenderung memberi rating Exceed Expectation ke semua anggota tim agar disukai, meski performa sebenarnya biasa saja.
Star / Top Talent
Kategori karyawan dengan kinerja dan potensi tinggi, biasanya menjadi prioritas untuk pengembangan dan retensi.
Implementasi PraktisHR menyusun program pengembangan khusus bagi karyawan yang masuk kategori Star agar tidak direkrut kompetitor.
Solid Performer
Kategori karyawan dengan kinerja konsisten baik namun potensi pertumbuhan yang lebih terbatas dibanding Top Talent.
Implementasi PraktisSebagian besar tim terdiri dari Solid Performer yang menjadi tulang punggung operasional sehari-hari.